Read More → KESENGSARAAN YESUS
Jumat, 08 Februari 2013
KESENGSARAAN YESUS
DIA dikhianati orang yang seiring sejalan dengan NYA
DIA disangkali murid yang diandalkan NYA
DIA ditinggal oleh yang lainnya, tak seorangpun bersama NYA
Sendiri DIA disengsara, sendiri DIA dihina
Sumpah serapah ditumpahkan pada NYA
Fitnah keji menghujam diri NYA
Ditengah gelak tawa mereka memukul NYA
Salibkan DIA, Salibkan DIA, Salibkan DIA
Teriakan itu menggema, tanda kesombongan dan kebodohan dunia
Sementara kita bersembunyi, coba menyelamatkan diri
Memandang kasihan, namun terus dipersembunyian
Sengsara kita tak suka, kita sebut nama NYA tapi kita biarkan DIA sendiri
Betapa jahatnya kita dijalan sengsara NYA
Kita pendosa yang tak layak menerima kasih dan pengorbanan NYARead More → KESENGSARAAN YESUS
Diposkan oleh
Dont Kill Christian
di
22.25
0
komentar
Label: KESENGSARAAN, Paskah, Paskah Artikel, Puisi, Yesus
DOA DITAMAN GETSEMANI
Pergumulan teramat berat yang datang sangat hebat,
Dikedinginan malam, Peluh NYA menetes bagaikan aliran darah,
Campuran kengerian, penderitaan, dan kesengsaraan
Disana DIA ada, sendiri, sementara muridnya tertidur pulas dalam sejuta mimpi
Bapa…. lepaskan AKU dari cawan murka ini……..
Namun bukan kehendak, Ku kehendak Mu jadilah
Di pencobaan berat DIA tetap taat………
Untuk kita, DIA rela menderita
Dimanakah kita, dipergumulan Getsemani?
Terlena dengan mimpi dan kenikmatan dunia
Terjebak dalam cinta diri, melupakan DIA
Getsemani menjadi saksi kita tidak bersama DIA
Read More → DOA DITAMAN GETSEMANI
Diposkan oleh
Dont Kill Christian
di
22.16
0
komentar
Label: Doa, GETSEMANI, Paskah, Paskah Artikel, Puisi
Kamis, 07 Februari 2013
KEMATIAN, JALAN MENUJU KEHIDUPAN
Jumat Agung, sebuah peringatan sakral umat kristiani, yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus Kristus untuk terus-menerus diperingati umat sebagai orang percaya (Lukas 22:19-20). Ya, kematian kudus, di mana darah kudus tertumpah untuk menyucikan manusia yang berdosa. Karena itu, penyebutan Jumat Agung amat sangat tepat untuk melukiskan karya agung Yesus Tuhan. Namun, ini bukanlah peristiwa yang berjalan mudah, bahkan sangat menegangkan. Adalah Taman Getsemani, menjadi saksi bisu pergumulan berat Yesus Kristus dalam mengemban misi suci yang dengan sukarela dipilih-Nya. Di taman ini, di kala para murid tertidur lelap, Yesus justru bergumul sendirian dalam ketegangan yang tak terbilang. Pergumulan atas cawan yang berisi murka Allah. Murka yang ditumpahkan karena dosa manusia.
Kesucian Allah tak dapat menolelir dosa, murka Allah tak mungkin ditiadakan. Dan, inilah yang menjadi persoalan manusia. Murka Allah adalah kematian manusia sebagai akibat dosa. Semua manusia, bukan hanya sebagian. Itu sebab, untuk penyelamatan dari kebinasaan akibat dosa harus ada yang menjadi korban murka Allah. Yesus Kristus memilih itu dalam kerelaan-Nya (Filipi 2: 6-9) untuk menyelamatkan manusia dengan menjadikan diri-Nya sebagai korban menerima murka Allah.
Di Getsemani, di keheningan malam, Yesus menaikkan doa yang menggambarkan pergumulan-Nya yang berat itu: “Ya, Bapa jikalau boleh, biarlah cawan ini lalu dari-Ku”. Sebuah permintaan yang tak berhenti di situ, karena berlanjut pada sikap rela yang luar biasa: “Namun bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu-lah yang jadi”. Ya, kehendak murka Allah.
Tapi kini yang berhadapan dengan murka itu bukanlah manusia yang berdosa, melainkan Tuhan Yesus Kristus. Dan, kesendirian-Nya, karena murid yang diajak berdoa tertidur, adalah lukisan betapa manusia tidak mengerti apa yang sedang dijalani-Nya. Yesus bergumul berat untuk menyelamatkan manusia, tetapi manusia justru tertidur lelap. Tuhan Yesus telah menang, Dia melewati jalan ketakutan yang mencekam. Kini Dia tenang, sehingga para penangkap-Nya kecele membawa pedang karena Tuhan Yesus tidak melakukan perlawanan. Bahkan sikap heroik Petrus yang menebas hingga telinga hamba imam, disebutnya sebagai tindakan yang tidak perlu. Tuhan Yesus menempelkan kembali telinga itu.
Petrus mampu menebasnya, tapi tak mampu memasangnya kembali. Tuhan Yesus berkuasa, namun tak melakukan perlawanan apa pun, karena misi-Nya yang sangat jelas. Namun bagi murid semuanya tak jelas, sehingga mereka mengalami kebingungan yang amat sangat atas tindakan Tuhan Yesus menyerahkan diri. Murid kacau balau, semua berusaha untuk menyelamatkan diri. Di Taman Getsemani terbukti manusia adalah pendosa, sekalipun manusia yang hendak ditebus-Nya, tapi manusia itu pula yang menangkap dan meninggalkan-Nya.
Ah, Getsemani, kenangan yang menyakitkan atas sebuah pengkhianatan lewat sebuah ciuman. Ini adalah peran Yudas yang penuh kemunafikan. Mencium tangan Yesus Sang Guru untuk menghabisi-Nya. Semua lakon manusia di Taman Getsemani, sekalipun berbeda namun satu nada, yaitu mencintai diri sendiri. Pergumulan usai, pengadilan yang tak adil menanti-Nya. Semua berlangsung dalam kerusakan moral manusia. Ya, moral yang tercabik-cabik karena manusia tak lagi mencintai kebenaran Allah.
Perjalanan penderitaan Tuhan Yesus Kristus berakhir di Bukit Golgota. Di sana, dalam kehinaan salib, Dia disalibkan sebagai pendosa yang tidak pernah berbuat dosa. Ya, Yesus Kristus Tuhan ada di kayu salib karena menanggung dosa, bukan karena berbuat dosa. Dia menjadi terhina karena kehinaan manusia yang berdosa. Ditanggung-Nya semua dalam kerelaan kasih-Nya yang amat besar itu. Tak mudah memahami kematian-Nya, bahkan tak mungkin. Roh Kuduslah yang telah memampukan kita.
Fakta kematian Kristus seharusnya menginspirasi perjalanan gereja. Perjalanan yang seharusnya benar dan berani menyuarakan kebenaran sudah tak lagi jelas. Semangat salib semakin memudar karena gereja terpusat pada kepuasan diri belaka. Semua berita hanya mengumbar tentang mendapatkan apa yang kita inginkan. Bahkan ketika mengingat kematian Yesus Kristus Tuhan yang telah diperintahkan, di dalam Perjamuan Kudus, umat justru mengingat kesulitan dirinya, sakitnya, dengan dalih darah Yesus berkuasa. Ironis, perintah yang sangat jelas untuk mengingat penderitaan kematian Yesus Kristus dalam roti dan anggur sebagai lambang tubuh dan darah Yesus, kini diselewengkan.
Kesetiaan gereja kepada pengorbanan Yesus Kristus Tuhan terusik sudah. Kebanyakan umat tak lagi mampu melihat kemenangan didalam kematian. Tak lagi mampu mengingat karya Kristus di kayu salib dengan sejenak melupakan keperluan diri. Tak lagi mampu hidup menyangkal diri dan memikul salib. Ya, jika Yesus Kristus tidak mati, maka apa nilai pengorbanan-Nya. Dan, Dia yang telah mati itu bangkit pada hari ketiga sesuai dengan apa yang telah dikatakan-Nya sebelum kematian-Nya. Dan sudah seharusnya orang percaya menaklukkan diri kepada-Nya, dan tak membuat nama Yesus sebagai mantera pemuas selera kemanusiaan atas nama iman.
Kematian yang berujung pada kebangkitan merupakan fakta yang tak terbantah, tercatat dalam sejarah hidup manusia, dan memberi dampak nyata bagi kehidupan hingga kini. Paulus dengan jitu melukiskan, bahwa tanpa kematian tidak akan ada kehidupan. Dia mengambil realita biji yang tak akan pernah menjadi pohon jika tak memecah diri terlebih dahulu. Keberanian dan kerelaan biji terpecah menjadi kontribusi utama dalam menghasilkan sebuah pohon yang berbuah. Dan, dalam perspektif teologis, kematian Kristus adalah kerelaan berdasarkan kasih-Nya yang tak terukur, yang memberikan harapan nyata dalam kebangkitan Nya.
Orang percaya telah menjadi pemenang di dalam Kristus, di dalam kebangkitan-Nya. Namun jangan terjebak eforia kebangkitan belaka dan melupakan pengorbanan-Nya di dalam kematian. Kematian dan kebangkitan harus saling mengikat dan berjalan pararel. Tak boleh dipisahkan sebagaimana kebanyakan sikap gereja masa kini, yang hanya bersukaria dalam kuasa kebangkitan, tapi tak pernah rela memikul salib.
Memelintir kematian sebagai kemenangan tanpa penderitaan, karena diikuti kebangkitan. Ini adalah kejahatan gereja dalam berkelit dari pangilan menyangkal diri dan memikul salib. Umat Kristen tak lagi suka memikul salib, bahkan ada pengkhotbah yang mengatakan, “Yesus Kristus telah menderita untuk kita, memikul salib kita, maka kita tidak lagi akan menderita, tak perlu memikul salib”. Padahal dengan tegas Paulus berkata dalam Filipi 1:29, “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia”.
Tidak ada kemenangan dalam kebangkitan tanpa penderitaan dalam kematian. Namun, penderitaan bukanlah persoalan yang terlalu besar, karena penderitaan dalam kesadaran dan kerelaan justru adalah kehormatan bagi orang beriman, kecuali iman imitasi. Pengujian akan berjalan, lalang dan gandum akan semakin nyata. Akhirnya, sebagai orang percaya jangan pernah menghindar dari jalan penderitaan yang terhormat untuk menuju kemenangan yang sejati. Ingat, kematian di dalam Kristus (mati terhadap dosa) adalah jalan menuju kebangkitan (hidup dalam Kristus) di kekekalan.
Selamat merenungkan Jumat Agung dengan sikap yang agung, dan selamat Paskah dalam kesukacitaan.
Read More → KEMATIAN, JALAN MENUJU KEHIDUPAN
Diposkan oleh
Dont Kill Christian
di
22.12
0
komentar
Label: JALAN, Kehidupan, Kematian, Paskah, Paskah Artikel
Aku Anak Bangsa Indonesia (Seminar Hidup yang Visioner)
Selasa, 05 Februari 2013
INJIL YANG LAIN
Dalam sejarah pemberitaan injil, ternyata pemutarbalikan kebenaran injil demi motif tertentu sangat kental. Rasul Paulus mengkritik umat di Galatia karena ternyata mereka sangat rentan terhadap injil lain (Galatia 1:6-8). Apakah yang dimaksud Paulus dengan injil lain? Ternyata ada banyak pengajar yang mencampur adukkan antara injil dengan syariat Taurat. Artinya, penetapan ritual-ritual yang justru mendegradasi injil yang sesungguhnya. Kedatangan Yesus telah menggenapi Taurat, dan memang bukan meniadakannya.
Artinya, dengan kedatangan-NYa, kematian, dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus maka tidak lagi diperlukan darah domba sebagai penebus dosa, karena darah Kristus sudah menggenapinya. Tak lagi perlu ribut soal makanan najis, karena Kristus telah tersalib untuk semuanya. Itu sebab Yesus Kristus sendiri telah berkata, tidak ada yang haram yang masuk kedalam mulut, melainkan apa yang keluar dari mulut, seperti caci maki dan lain-lain. Jadi jelas sekali, oleh injil lain, penggenapan Taurat oleh Yesus Krsitus melalui kematian Nya, ditiadakan, dan ritual PL tetap dilakukan. Kematian Kristus belum cukup, sehingga masih perlu korban. Masih tetap ada makanan yang najis atau haram. Bahkan sunatpun seringkali dipersoalkan dari perspektif rohani, dalam kaitannya dengan karunia Kristus. Inilah yang dikritik Paulus dari umat di Galatia, karena mereka mudah goyah dan segera berubah oleh injil yang lain. Umat Galatia diingatkan bahwa penggenapan Yesus Kristsu atas Taurat bersifat menyeluruh dan final.
Sehingga mencampuradukkan Injil dengan Taurat adalah sebuah kesalahan fatal. Ironisnya fakta ini terus berlanjut ke jemaat masa kini yang juga mudah tergoyah. Banyak ajaran saat ini yang seakan akan sempurna karena kembali kepada tradisi Yahudi di PL. Kelompok yang mengangkat dan merayakan berbagai hari raya yang sesungguhnya adalah simbol dari Kristus. Misalnya seperti Pesakh, kelepasan dari maut di Mesir, adalah simbol dari paskah, yaitu kelepasan dari dosa oleh penebusan Yesus Kristus. Pada umumnya hal ini dilakukan dalam rangka menarik minat pengikut baru. Seakan tampak lebih rohani, padahal sesungguhnya justru mundur jauh. Mengapa umat bisa tertarik? Sederhana sekali, karena umat tidak pernah mencintai dan mengerti injil seutuhnya. Injil tak didalami, mendengar khotbah seringkali seperti kewajiba agama yang terpenuhi. Secara pribadi atau kelompok, jemaat tak suka menggali dan mendalami kebenaran. Inilah yang menjadi kelemahan jemaat dari masa kemasa.
Akibatnya sudah dapat dibayangkan, ketika datang ajaran dengan berbagai tambahan, maka tampak seakan lebih benar. Ini membuat umat berpikir bahwa dia sedang melengkapi ke kristenannya, padahal yang sesungguhnya terjadi, dia justru mengingkari kesejatian Injil. Umat tidak sadar sedang merendahkan Yesus Kristus yang sesungguhnya menjadi pusat dan puncak dari iman kristiani. Umat terombang ambing oleh berbagai ajaran Injil lain. Injil lain yang seringkali diberitakan demi keuntungan perut bagi pengabarnya, seperti sering dikatakan rasul Paulus. Karena itu anda perlu cerdik, dengan mengenali injil lain dalam berbagai bentuk. Berbalutkan mujizat yang menjadi ukuran keimanan, atau jaminan kaya dan sehat apabila dalam Yesus. Padahal Yesus sendiri berkata, sangkal dirimu, pikul salibmu dan ikut Aku. Tidak ada yang salah dengan mujizat, kaya, atau sehat. Namun mengharuskannya sebagai wujud keberimanan adalah kejahatan. Semua itu adalah berkat ekstra yang Tuhan berikan dalam menjalani kehidupan ini. Jangan lupa janda miskin yang hebat didalam PB.
Atau gambaran lengkap Lazarus sipengemis yang miskin dan sakit total. Atau Yesus Kristus dan para murid-Nya yang juga terbilang miskin, dan Paulus sang rasul yang mengalami sakit yang luar biasa, dari duri didalam tubuhnya. Apakah mereka salah, tidak beriman atau tidak diberkati? Injil lain memang merusak banyak hal, namun sudah seharusnya kita belajar bersikap, menguji, dan menelanjangninya. Semoga kita bertumbuh menjadi jemaat yang sehat dalam beriman dan tak terjebak oleh injil lain.
Read More → INJIL YANG LAIN
Manusia Dan Mandat Budaya (Cultural Mandate)
Diposkan oleh
Dont Kill Christian
di
16.14
0
komentar
Label: cultural mandate, Doktrinal, mandat budaya, manusia


















